Matan Sulamuttaufiq (#10)


(وسميته) اى الجزء اللطيف (سلم التوفيق الى محبة الله على التحقيق) اى على طريق الحق بالايقان

“(Dan aku/Syekh Abdulloh bin Husen bin Thohiri Ba’alawi   menamakan kepadanya) yakni kepada bagian yang kecil dan pelik ( sullamuttaufiiqi illaa mahabbatillahi 'alattahqiiq = tangga pertolongan mencapai kecintaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya) yakni menetapi jalan  yang benar dengan keyakinan penuh”

Suatu bagian kecil tapi pelik/krusial karena wajib mempelajarinya dan mengajarkannya serta wajib pula mengamalkannya yang akan dituangkan kedalam bentuk sebuah kitab oleh Syekh Abdulloh bin Husen bin Thohiri Ba’alawi, beliau menamainya dengan nama kitab “sullamuttaufiiqi illaa mahabbatillahi 'alattahqiiq = tangga pertolongan mencapai kecintaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya.


Untuk meraih kecintaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya maka haruslah menetapi jalan yang benar dengan penuh keyakinan. Jalan tersebut terdiri dari dua (2) hal, yakni mengenal (makrifat) kepada Alloh, melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya. Ma’rifat kepada Alloh dibahas dengan ilmu tauhid, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dibahas dengan ilmu fiqih dan ilmu tassawuf. Ketiga ilmu tersebut menjadi bahasan dalam kitab ini. Oleh sebab itu kitab ini dinamai kitab sullamuttaufiiqi illaa mahabbatillahi 'alattahqiiq, tersimpan harapan dengan mempelajari, mengajarkan serta mengamalkan isi  kitab ini dapat membantu menghantarkan kepada kecintaan kepada Alloh dengan sebenarnya sesuai dengan nama kitabnya.

Matan (#9)

(والواجب) من حيث وصفه بالوجوب ( ما وعد الله فاعله بالثواب وتوعد تاركه بالعقاب) اى باستحقاق العقاب فلا ينافى العفو ويكفى فى صدق الوعيد وجوده لواحد من العصاة مع العفو عن غيره
“(Dan wajib itu ) dari sekiranya pengarang memberikan sifat wajib kepada perkara itu  ( adalah sesuatu yang telah menjanjikan Alloh kepada orang yang mengerjakannya dengan pahala dan telah mengancam Alloh kepada orang yang meninggalkannya dengan siksa ) yaitu dengan memberikan hak siksaan, maka tidaklah ditiadakan ampunan dan mencukupi dalam benarnya ancaman yaitu adanya satu ancaman bagi salah satu dosa dengan adanya ampunan bagi dosa lainnya”

Seperti yang telah diungkapkan, bahwa isi kitab ini adalah perkara yang  telah disifati wajib  oleh pengarang kitab yakni wajib belajarnya dan mengajarkannya serta mengamalkannya, maka yang dimaksud wajib disini adalah wajib yang mempunyai pengertian:

“wajib adalah sesuatu yang telah menjanjikan Alloh kepada orang yang mengerjakannya dengan memberi pahala dan telah mengancam Alloh kepada orang yang meninggalkannya dengan memberikan siksaan”

Konsekwensi dalam wajib yaitu adanya pahala dan siksa. Pahala merupakan hak bagi orang yang mengerjakan kewajiban dan siksaan merupakan sebuah hak bagi orang yang meninggalkan kewajiban. Alloh hanyalah memberikan hak kepada keduanya dari apa yang telah diperbuat. Makanya dalam Al-Qur’an ada diungkapkan Alloh tidaklah berbuat dholim akan tetapi Alloh Maha adil dengan pengertian Alloh akan memberikan hak sebagai konsekwensi dari wajib sesuai dengan peruntukannya (yang mengerjakan diberikan pahala sebagai haknya dan yang meninggalkan diberi siksa sebagai haknya) sebagaimana definisi dari adil dan dholim yaitu:

وضع الشيء فى محاله العدل العدل
“adil adalah meletakan sesuatu pada tempatnya"

الظلم وضع الشيء فى غير محاله
“dholim adalah meletakan sesuatu bukan pada tempatnya”

Ancaman siksaan tidaklah meniadakan ampunan Alloh, sehingga ancaman siksaan masih ada kemungkinan batal untuk diberikan karena masih ada sesuatu hal yang dapat membatalkannya yaitu dengan adanya ampunan dari Alloh. Orang yang mendapat ampunan dari Alloh maka dia tidak berhak lagi akan siksaan.

Mencukupi sebagai petunjuk benarnya ancaman Alloh dengan adanya Alloh memberikan siksaan bagi salah satu dosa yang tidak mendapat ampunan serta tidak memberikan siksaan bagi dosa lainnya yang mendapatkan ampunan.


Orang yang bodoh wajib mempelajarinya, orang berilmu wajib mengajarkannya dan wajib pula bagi keduanya mengamalkannya, maka mereka akan mendapatkan pahala sebagai haknya. Orang bodoh enggan mempelajarinya, orang berilmu enggan mengajarkannya bahkan mereka tidak mengamalkannya, maka mereka akan mendapatkan siksa sebagai hak mereka kecuali mereka bertaubat dan mendapatkan ampunan Alloh.

Kisah Para Kekasih Allah


Kisah Para Kekasih Allah
Penerbit: zahira
Pengarang: Syeikh Yusuf bin Ismail Nabhani
Harga: Rp.202.500 
No Seri B011


Referensi Lengkap dalam Meneladani Para Wali Allah
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi lereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat janji-janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
(QS.Yunus: 62-64)
***
Orang yang membaca dan mendalami buku ini akan memandang bahwa buku ini merupakan sebuah ensiklopedia terbesar yang berbicara tentang kepastian adanya berbagai karamah bagi orang yang dipilih oleh Allah Swt. dan diistimewakan dengan diberi walian (wilayah).


http://toko.nu.or.id/

Matan (#8)


( فيما) اى فى بيان امر( يجب تعلمه)من العالم (وتعليمه) للجاهل( والعمل به) من امتثال الامر واجتناب النهى( للخاص والعام) اى للعالم والجاهل

“(Didalam perkara) yakni didalam menjelaskan perkara (yang wajib mempelajarinya) dari orang yang berilmu (dan wajib mengajarinya) bagi orang bodoh (dan wajib pula mengamalkannya) yakni sebagai bentuk dari melaksanakan perintah dan menjauhi larangan (bagi orang yang khusus dan orang yang awam) yakni bagi orang berilmu dan orang yang bodoh”


Matan/redaksi yang merupakan sesuatu bagian kecil dari ilmu agama namun sangatlah pelik/krusial karena berkaitan dengan perkara yang wajib mempelajari dan mengajarinya serta mengamalkannya sebagai bentuk dari melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh. Orang yang bodoh (jahli) akan perkara tersebut maka diwajibkan kepadanya agar mau belajar dari orang yang berilmu (a’lim) dan sebaliknya orang yang berilmu maka diwajibkan kepadanya agar mau mengajarkan kepada orang yang bodoh serta diwajibkan pula kepada orang yang berilmu dan orang bodoh agar mengamalkannya sebagai bentuk dari melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh.





Matan (#7)

Sullamuttaufiq Pertemuan ke-7

( يسره)اي سهله( الله تعالى)للمتناولين بفهم ما فيه والعمل بمقتضاه

(“Semoga memudahkan atasnya) yakni memudahkan atasnya (Alloh Ta’ala) bagi orang-orang yang ingin mendapatkan kepahaman atas perkara dalam matan ini dan mengamalkan ketentuannya”
Meskipun matan/redaksi yang akan dituliskan dipandang suatu bagian yang  kecil dari ilmu agama namun amat krusial sehingga penting untuk dipahami dan diamalkan, sedangkan untuk bisa paham apalagi mengamalkanya adalah sesuatu yang tidaklah mudah, maka Syekh Abdulloh bin Husen bin Thohiri Ba’alawi mendahulukan memohon kepada Alloh Ta’ala agar memberikan kemudahan bagi orang –orang yang ingin mendapatkan kepahaman dan mengamalkan ketentuan yang ada dalam matan/redaksi kitabnya nanti.
Nabi Muhammad SAW menyampaikan :
من يريد به الله خيرا يفقهه  فى الدين
“Barang siapa yang mana Alloh menghendaki kebaikan atasnya, maka Alloh akan memahamkannya dalam agama”
طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلة
“Menuntut ilmu fardhu (wajib) atas orang islam laki laki dan perempuan”
Kepahaman itu bukanlah datang dari hasil menuntut ilmu/belajar akan tetapi merupakan karunia Alloh semata sehingga tanpa belajarpun kalau Alloh menghendaki seseorang paham akan ilmu agama maka kepahaman tersebut akan Alloh berikan. Menuntut ilmu/ belajar adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan, akan tetapi belajar bukan jaminan untuk paham akan ilmu agama, meskipun belajar bertahun tahun kalau Alloh tidak menghendaki seseorang paham akan ilmu agama maka Alloh tidak akan memberikan kepahaman kepadanya.
Adapun mengamalkannya adalah berkat adanya pertolongan dari Alloh Ta’ala semata, sebagaimana secara umum terkandung dalam ma’na حوقلة :
لاحول ولاقوة الا بالله العلي العظيم
“tiada daya untuk menjauhi maksiat kepada Alloh dan tiada kekuatan untuk turut berbakti kepada Alloh kecuali dengan pertolongan Alloh yang Maha tinggi dan Maha Agung”
Menyadari ketiga hal tersebut, maka kita jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Alloh sebagai sang pemberi kepahaman dan pemberi pertolongan dibarengi harus giat belajar sebagai suatu kewajiban .